Apasih bedanya?
Dari kamis - sabtu aku rajin menghadiri hajatan eagle award, menonton film dokumenter adalah hal baru bagiku. Menonton kisah air mata manusia lain, kata mereka banyak perhatian yang datang dari manusia lain kepada kisahkisah air mata itu setelah didokumenterkan. selamat, anda-anda mendapat pahala kalau begitu!
Menarik film Naik Daun, ketentuan adat yang tidak bisa ditolak lalu menjadi takdir yang tidak bisa ditawar. Diatas Rel Mati, Sutradaranya tidak memberitahu kami berapa banyak orang pingiran yang bahagia hidup di Jakarta. Suster Apung, Salut untuk yang berhasil mengangkat kisah ini. Kepala Sekolahku Pemulung, asyik eui.. kisah nyata rakyat indonesia!
Lalu diakhir lawatan diputar film The Jak, terlihat jelas kesenjangan sosial di Jakarta, Mereka (Jak Mania) hanya mampu membeli, memiliki dan menjadikan SepakBola sebagai hiburan, “Gue Anak Jakarta†Mereka coba berteriak melalui tulisan di baju Orange kebanggaannya, berharap dapat menghancurkan apartemen, gedunggedung besar yang hanya membawa pilu. Tapi, ya, tetap saja di film itu mereka terlalu anggar jago, kampungan dikandang sendiri, kreak, fanatisme yang akut.
Diakhir sesi ada Diskusi bersama Andibachtiar Yusuf sutradara film The Jak, beliau dangan gaya komentator K!ck Off coba mengupas film tersebut. “Mas, apa sih bedanya film dokumenter, film bioskop, wayang golek, sinetron, dan film esek-esek?†celetukku dalam hati, menyaksikan narasumber dan peserta berdebat mengadu idealisme tentang film mereka. Kembali ke pertanyaanku, jawab donk?
April 30th, 2008 at 12:52 am
saya ga pernah punya waktu untuk langsung menyaksikan festival keren ini,..
hanya menumpang di rekaman2 teman..
film dokumenter yang di Eagle memang selalu menarik…
Mei 6th, 2008 at 12:41 pm
yg semua ditanyain itu ya sama2 aja, sama2 barang tontonan. bedanya kalo di republik ini slalu ada pembedaan, slalu ada kesan yg satu lbh penting dari yg laen, padahal sama2 karya seni kok. yg ngebedain mgkn ada yg jd industri ada yg tetep jd karya seni….walau sebenernya kalo buat gw, semua seni sebenernya udah jadi industri, pelaku2nya aja yg mentalnya gak beres sampe2 selalu ngebedain mana yg bisa diterima masyarakat mana yg gak bisa diterima
jawabannya gak bikin bingung kan?