Apr 27 2008
Apasih bedanya?
Dari kamis - sabtu aku rajin menghadiri hajatan eagle award, menonton film dokumenter adalah hal baru bagiku. Menonton kisah air mata manusia lain, kata mereka banyak perhatian yang datang dari manusia lain kepada kisahkisah air mata itu setelah didokumenterkan. selamat, anda-anda mendapat pahala kalau begitu!
Menarik film Naik Daun, ketentuan adat yang tidak bisa ditolak lalu menjadi takdir yang tidak bisa ditawar. Diatas Rel Mati, Sutradaranya tidak memberitahu kami berapa banyak orang pingiran yang bahagia hidup di Jakarta. Suster Apung, Salut untuk yang berhasil mengangkat kisah ini. Kepala Sekolahku Pemulung, asyik eui.. kisah nyata rakyat indonesia!
Lalu diakhir lawatan diputar film The Jak, terlihat jelas kesenjangan sosial di Jakarta, Mereka (Jak Mania) hanya mampu membeli, memiliki dan menjadikan SepakBola sebagai hiburan, Gue Anak Jakarta Mereka coba berteriak melalui tulisan di baju Orange kebanggaannya, berharap dapat menghancurkan apartemen, gedunggedung besar yang hanya membawa pilu. Tapi, ya, tetap saja di film itu mereka terlalu anggar jago, kampungan dikandang sendiri, kreak, fanatisme yang akut.
Diakhir sesi ada Diskusi bersama Andibachtiar Yusuf sutradara film The Jak, beliau dangan gaya komentator K!ck Off coba mengupas film tersebut. Mas, apa sih bedanya film dokumenter, film bioskop, wayang golek, sinetron, dan film esek-esek? celetukku dalam hati, menyaksikan narasumber dan peserta berdebat mengadu idealisme tentang film mereka. Kembali ke pertanyaanku, jawab donk?